Laurens Bulo: Jangan Beri Celah Lakukan Korupsi

Tinggalkan komentar

TM Online – Jumat, 8 Oktober 2010 | 10:55 WIB

– Pemerintah Kota (Pemko) Tomohon langsung bereaksi setelah Komisi Pemberantas Korupsi membeberkan praktek pungli di beberapa Satuan Perangkat Kerja Daerah (SKPD) di Pemkot Manado dalam sebuah acara pemberantasan korupsi di Manado.

Tak ingin kecolongan dan hal serupa terjadi di Tomohon, Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Daerah Kota Tomohon Laurens Bulo mengumpulkan seluruh kepala SKPD di lingkup pemerintahan setempat, Jumat (8/10/2010).

Menurut Laurens, pertemuan tersebut mencari upaya-upaya untuk mencegah dan memberantas praktek-praktek pungli. “Tiap SKPD harus membuat terobosan-terobosan jangan sampai praktek tersebut tumbuh. Intinya upaya apa untuk pemberantasan korupsi,” ujar dia usai pertemuan.

Dia meminta agar tahapan-tahapan yang rawan tindakan penyuapan atau pungli dipangkas. Sehingga ruang untuk melakukan penyimpangan tertutup bagi para pegawai.

Laurens mencontohkan, pembayaran dilakukan tidak di kantor SKPD melainkan langsung ke bank. “Jika pun dibayar di kantor SKPD, maka pada hari itu juga langsung disetorkan ke Bank. Jadi, setoran tidak diinapkan di kantor,” urai dia.

Dia juga meminta di setiap loket pembayaran, dicantumkan tagihan atau harga jasa. Juga dibeberkan juga dasar aturan tagihan tersebut. Misalnya, berdasarkan Perda Nomor dan pasal berapa.

“Pokoknya jangam memberikan ruang untuk melakukan penyelewengan. Ini sebagai bentuk komitmen dalam pemberantasan korupsi,” papar dia.

Rabu pekan depan, Pemkot Tomohon akan melakukan pertemuan internal terkait masalah tersebut. Tiap SKPD diharapkan bisa menyampaikan usulan untuk meringkas jalur birokrasi yang bisa menimbulkan celah untuk korupsi.

“Tujuan utamanya tentu agar pelayanan kepada masyarakat lebih optimal,” pungkas dia.

Lagi

Iklan

Tomohon, North Sulawesi. Indonesia

Tinggalkan komentar

Kota Tomohon adalah salah satu kota di Provinsi Sulawesi Utara, Indonesia. Sebelum tahun 2003 merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Minahasa. Dalam perkembangannya, Tomohon mengalami banyak sekali kemajuan, sehingga ada aspirasi dari warganya untuk meningkatkan status Tomohon menjadi sebuah kota. Tomohon menjadi daerah otonom (kota) dengan disahkannya Undang-undang RI Nomor 10 Tahun 2003 tentang Pembentukan Kabupaten Minahasa Selatan dan Kota Tomohon di Provinsi Sulawesi Utara oleh DPR RI. Namun, peresmiannya baru pada tanggal 4 Agustus 2003.

Sejarah

Tomohon sejak dahulu telah dituliskan dalam beberapa catatan sejarah. Salah satunya terdapat dalam karya etnografis Pendeta N. Graafland yang ketika pada tanggal 14 Januari 1864 di atas kapal Queen Elisabeth, ia menuliskan tentang suatu negeri yang bernama Tomohon yang dikunjunginya pada sekitar tahun 1850. Perkembangan peradaban dan dinamika penyelenggaraan pembangunan dan kemasyarakatan dari tahun ke tahun menjadikan Tomohon sebagai salah satu ibukota kecamatan di Kabupaten Minahasa.
Dekade awal tahun 2000-an masyarakat di beberapa bagian wilayah kabupaten Minahasa melahirkan inspirasi dan aspirasi kecenderungan lingkungan strategis baik internal maupun eksternal untuk melakukan pemekaran daerah. Berhembusnya angin reformasi dan diimplementasikannya kebijakan otonomi daerah, semakin mempercepat proses akomodasi aspirasi masyarakat untuk pemekaran daerah dimaksud. Melalui proses yang panjang secara yuridis dan pertimbangan yang matang dalam rangka akselerasi pembangunan bangsa bagi kesejahteraan masyarakat secara luas, maka Pemerintah Kabupaten Minahasa beserta Dewan Perwakilan Daerah Kabupaten Minahasa merekomendasikan aspirasi masyarakat untuk pembentukan Kabupaten Minahasa Selatan, Kota Tomohon, dan Kabupaten Minahasa Utara; yang didukung oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara. Pembentukan Kabupaten Minahasa Selatan dan Kota Tomohon ditetapkan Pemerintah Pusat dengan dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2003, dan pembentukan Kabupaten Minahasa Utara melalui Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2003.
Terbentuknya lembaga legislatif Kota Tomohon hasil Pemilihan Umum Tahun 2004, menghasilkan Peraturan Daerah Kota Tomohon Nomor 22 Tahun 2005 tentang Lambang Daerah dan Peraturan Daerah Kota Tomohon Nomor 29 Tahun 2005 tentang Hari Jadi Kota Tomohon.
Kota Tomohon diresmikan oleh Menteri Dalam Negeri Harry Sabarno atas nama Presiden Republik Indonesia pada tanggal 4 Agustus 2003.

Kecamatan
Saat ini Kota Tomohon terbagi menjadi 5 kecamatan, yaitu:
Tomohon Utara
Tomohon Tengah
Tomohon Timur
Tomohon Barat
Tomohon Selatan

Letak geografis

Kota Tomohon berada pada 1°15′ Lintang Utara dan 124°50′ Bujur Timur. Luas Kota Tomohon berdasarkan keputusan UU RI Nomor 10 Tahun 2003 sekitar 11.420 Ha dengan jumlah penduduk mencapai 87.719 jiwa.

Kota Tomohon terletak di ketinggian kira-kira 700-800 meter dari permukaan laut (dpl), diapit oleh 2 gunung berapi aktif yaitu Gunung Lokon (1.689 m) dan Gunung Mahawu (1.311 m). Suhu di Kota Tomohon pada waktu siang mampu mencapai 30 derajat Celsius dan 23-24 derajat Celsius pada malam hari.

Batas wilayah

Kota Tomohon memiliki batas-batas wilayah sebagai berikut:

Utara Kecamatan Pineleng Kabupaten Minahasa
Selatan Kecamatan Sonder Kabupaten Minahasa
Barat Kecamatan Tombariri Kabupaten Minahasa
Timur Kecamatan Tondano Utara Kabupaten Minahasa

Sumber Daya Alam

Keanekaragaman Hayati

Iklim Tomohon yang sejuk merupakan ciri tersendiri di Provinsi Sulawesi Utara. Keanekaragaman hayati ini menjadi tantangan untuk didalami. Melalui salah satu yayasan yang bergerak di bidang penyelamatan lingkungan dilakukanlah sebuah ekspedisi pencarian tanaman asli Tomohon. Setelah dilakukan ekspedisi penelitian ke pedalaman Gunung Masarang oleh Yayasan Masarang bekerja sama dengan Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado, telah ditemukan berbagai spesies flora dan fauna langka yang hanya terdapat di Sulawesi. Sebagian tanaman langka tersebut kini telah disemaikan di persemaian Yayasan Masarang yang nantinya akan dijadikan bagian dari kebun raya baru di Gunung Masarang. Kebun raya ini diharapkan akan menjadi penyedia benih, fasilitas pendidikan lingkungan hidup, proyek kerja sama serta objek ekowisata untuk turis lokal dan mancanegara.

Jenis flora dan fauna yang berhasil ditemukan antara lain:

  • Nepenthes masarangense, bufo celebensis (katak bertanduk), oleh penduduk setempat sering disebut karaksungean.
  • Ficus minahassae, schefflera actinophylla, yang merupakan salah satu flora asli Tomohon.

Potensi Daerah

Pada 8 Februari 2006 untuk pertama kalinya diadakan Parade Bunga di Tomohon untuk merangsang wisata dan budi daya bunga. Parade bunga ini oleh Walikota Tomohon dijadikan kalender tetap tahunan. Pada bulan Juni 2008 diselenggarakan Tomohon Flowers Festival (TFF) sebagai kelanjutan dari Parade Bunga yang diadakan 8 Februari 2006.

Penduduk

Suku Bangsa

Mayoritas masyarakat Tomohon adalah suku Tombulu, namun terdapat pula suku Toutemboan yang mendiami ujung Utara kota Tomohon tepatnya di Desa Tinoor yang terdiri dari Tinoor Satu dan Tinoor dua. Tomohon juga didiami suku-suku lain, baik yang berasal dari Minahasa, Sulawesi Utara mau pun suku lain di Indonesia.

Bahasa

Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat di Kota Tomohon selain menggunakan Bahasa Manado dan Bahasa Indonesia, sebagai bahasa percakapan juga menggunakan bahasa Minahasa. Seperti diketahui di Minahasa terdiri dari delapan macam jenis bahasa daerah yang dipergunakan oleh delapan etnis yang ada, seperti Tountemboan, Toulour, Tombulu, dll. Bahasa daerah yang paling sering digunakan di Kota Tomohon adalah bahasa Tombulu, karena memang wilayah Tomohon termasuk dalam etnis Tombulu.

Selain bahasa percakapan di atas, ternyata ada juga masyarakat di Minahasa dan Kota Tomohon khususnya para orang tua yang menguasai Bahasa Belanda karena pengaruh jajahan dari Belanda serta sekolah-sekolah jaman dahulu yang menggunakan Bahasa Belanda. Saat ini, semakin hari masyarakat yang menguasai dan menggunakan Bahasa Belanda tersebut semakin berkurang seiring dengan semakin berkurangnya masyarakat berusia lanjut.

Agama

Mayoritas masyarakat Kota Tomohon memeluk agama Kristen dan menjadi pusat penyebaran agama Kristen Protestan di Minahasa. Kantor Pusat Sinode Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) yang adalah gerja terbesar yang ada di Sulawesi Utara, berlokasi di kota ini. Demikian juga dengan Gereja Katolik Roma yang memiliki banyak pemeluk dengan sejarah yang panjang di Tomohon. Kantor Konferensi Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh wilayah Tomohon dan Minahasa Selatan berpusat di Tomohon. Di Tomohon juga terdapat pemeluk agama Buddha yang memiliki vihara di Kelurahan Kakaskasen III. Sebagian besar masyarakat Tomohon yang beragama Islam menetap di kelurahan Kampung Jawa. Terdapat juga Pesantren yang berada di kelurahan Kinilow.

Seni dan Budaya

Tarian

Seni Tari yang ada di Tomohon sama dengan di Minahasa umumnya, antara lain:

  • Tari Kabasaran (Tari Perang)
  • Tari Katrili
  • Tari Maengket
  • Tari Pisok

Musik

Seni Musik yang ada di Tomohon antara lain:

Kolintang adalah instrument musik yang berasal dari Minahasa biasanya Kolintang dipakai sebagai pengiring dari seorang penyanyi lagu-lagu daerah ataupun cuma musik instrumen saja. Kolintang sudah sangat terkenal di Indonesia bahkan juga sudah dipromosikan ke luar negeri. Kolintang dimainkan oleh sebuah regu, biasanya satu regu itu terdiri dari 5 sampai 6 orang.

Musik bambu juga adalah musik tradisional dari Minahasa satu regu terdiri 30-40 orang bahkan ada yang lebih. Musik bambu dari Minahasa juga sudah sangat terkenal di Indonesia bahkan tidak jarang acara dari luar Sulawesi Utara yang mengundang 1 regu musik bambu.

Mapalus

Masyarakat Kota Tomohon sama seperti masyarakat Minahasa pada umumnya memiliki adat istiadat dan budaya yang dikenal dengan sebutan Mapalus. Budaya Mapalus atau bekerja bersama dan saling bantu ini telah berakar dan membudaya di kalangan masyarakat Minahasa. Budaya tersebut sampai saat ini masih terjaga dan terpelihara. Pada kehidupan sehari-hari masih bisa dirasakan sikap suka membantu dan bekerjasama. Kecuali beberapa kegiatan yang merupakan rangkaian dari Mapalus seperti memakai alat tiup ketika mengajak kelompok untuk ber-Mapalus sudah mulai hilang. Perlahan keaslian mulai terkikis dengan modernisasi.

Perekonomian

Dulu Tomohon dikenal sebagai pusat produsen sayur-sayuran, kini predikat itu telah beralih ke Kecamatan Modoinding, Kabupaten Minahasa Selatan. Tomohon kini dikenal sebagai produsen bunga (kembang) di Provinsi Sulawesi. Tidak hanya itu, letaknya yang diapit oleh tiga gunung aktif: Lokon, Mahawu, dan Masarang menjadikan wilayah ini sebagai daerah yang subur dan sebagai daerah wisata karena hawanya yang sejuk. Pasar Tomohon dulunya adalah pasar tradisional terbesar di Minahasa. Di mana dijual berbagai macam jenis daging antara lain: daging sapi, babi, anjing, tikus pohon, kelelawar dan ayam. Daging yang dijual sangat segar, karena dijagal di pasar itu. Selain itu, pasar Tomohon juga menjual berbagai jenis ikan laut dan ikan air tawar. Karena Pasar Tomohon lebih lengkap, sehingga banyak pedagang lain yang malah khusus datang berbelanja di Pasar Tomohon dalm jumlah besar.

Pariwisata

Objek-objek wisata yang ada di Kota Tomohon yaitu: Gunung Lokon, Gunung Mahawu, Danau Linow, dll.

Yang paling menarik dari pariwisata di Tomohon adalah kegiatan Tomohon Flower Festival yang diselenggarakan tiap 2 tahun sekali. Di dalam festival tersebut, ada kegiatan yang menarik banyak wisatawan untuk datang melihat, yaitu Tournament of Flower (ToF).

Kota Tomohon sering mengadakan pawai untuk memperingati hari kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus, dan pawai tersebut menarik wisatawan untuk melihat pawai pertunjukan drum band/marching band.

Pendidikan

Sejak dulu Tomohon dikenal sebagai kota pendidikan dan kota agama, karena di sinilah para misionaris dari negeri Belanda menetap dan membuka sekolah-sekolah, rumah sakit dan menjadi pusat penyebaran agama Kristen di Tanah Minahasa. Tomohon memiliki fasilitas pendidikan mulai dari TK hingga perguruan tinggi atau universitas. Fasilitas pendidikan ini dikelola oleh pemerintah dan swasta.

Transportasi

Sarana angkutan umum yang beroperasi di Tomohon yaitu:

Pranala luar

Mahasiswa demo Kedubes Belanda

Tinggalkan komentar

Sekitar seratus massa gabungan dari Badan Eksekutif Mahasiswa se-Jakarta berdemonstrasi di depan Kantor Kedutaan Besar (Kedubes) Belanda, Jl HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (8/10). Demo berlangsung tepat di depan pagar betis sekitar seratus personel kepolisian.

Anggota kepolisian membawa tameng plastik tepat didepan tubuh mereka. Mereka juga dilengkapi dengan helem pelindung. Sementara para pendemo di kawal ketat dan tidak dapat memasuki halaman kedutaan.

Demonstran datang dari berbagai arah, diantaranya dari Kampung Melayu dan Kebayoran Baru. Aksi berlangsung mulai pukul 14.00 WIB hingga pukul 15.00 WIB. Demonstran yang mengaku mahasiswa itu membawa bendera dan spanduk bertuliskan penolakan terhadap rencana pengadilan Hak Asasi Manusia terhadap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Halo dunia!

1 Komentar

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!